welcome in myblog
welcome in my world

Laman

Senin, 27 Desember 2010

Komputer Tak Kenal Umur


Teknologi saat ini bukan lagi jadi hal yang asing di telinga kita. Teknologi terus berkembang tiap waktu bahkan tiap detik sekarang tercipta teknologi-teknologi baru yang tentunya lebih canggih dari teknologi sebelumnya. Salah satu teknologi yang berkembang pesat adalah komputer. Komputer terus berkembang dari waktu ke waktu dan kemampuannya terus berkembang. Computer bahkan sekarang dikemas dalam ukuran mini yang dapat di bawa kemana saja ini tentunya sangat membantu bagi orang-orang yang memiliki pekerjaan yang mengharuskan mereka menggunakan computer tiap waktu dan tiap saat.
          Computer juga sekarang bukan lagi menjadi barang mewah melainkan menjadi kebutuhan penting dalam kehidupan sehari-sehari terutama bagi pekerja, pelajar, dan mahasiswa yang memiliki ketergantungan dengan computer yang cukup tinggi. Saat ini penjualan Laptop atau computer jinjing sangat meningkat ini dikarenakan kebutuhan akan laptop semakin meningkat untuk menunjang aktivitas para penggunanya.
          Pengguna computer saat ini pun sudah tidak melihat umur dari muda, tua, bahkan anak-anak. Anak-anak sebagai pengguna computer tentu suatu hal yang sangat menarik karena ternyata sebagian anak-anak pengguna computer adalah balita atau anak di bawah umur 5 tahun. Memang banyak yang beranggapan sebaiknya computer belum diberikan pada usia dini karena memaksa anak untuk menjangkau tahap berpikir operasional konkrit sembentara mereka baru pada tahap simbolik. Akan tetapi penlitian-penelitian menunjukkan sebaliknya.
          Sebuah penelitian menunjukan bahwa computer untuk anak 3-4 tahun memiliki manfaat untuk maningkatkan kreativitas, ntelegensia, keterampilan nonverbal, pengetahuan structural, ingatan jangka panjang, kecekatan tangan, keterampilan verbal, penyelesaian masalah abstraksi, keterampilan konseptual dan harga diri. Sedangkan untuk anak taman kanan-kanan dan SD awal adalah meningkatkan keterampilan motorik, mempertinggi berpikir matematis, meningkatkan kreativitas, berpikir kritis dan menyelesaikan masalah, serta dapat memperkaya nilai bahasa mereka. Hal tersebut dapat tercipta apabila anak menggunakan software yang tepat untuk pendidikan anak usia dini. Tentu saja hal ini juga memerlukan bimbingan dari guru maupun orang tua agar penggunaan computer tetap terkontrol. Baik guru maupun orang tua juga harus bisa memberikan software pendidikan seperti menggambar, game-game pendidikan yang tentunya dapat membantu anak dalam belajar sehingga anak tidak tidak jenuh dalam belajar.
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa computer memiliki manfaat bagi pengembangan potensi anak usia dini. Tidak ada salahnya jika computer menjadi salah satu alternative –tanpa mengesampingkan bahan-bahan tradisional lainnya—dalam pendidikan anak usia dini. Karena usia dini merupakan usia kritis untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki anak sehingga perlu difasilitasi agar memperoleh hasil yang optimal. Ini juga salah satu strategi agar anak lebih giat belajar tanpa menimbulkan rasa bosan dan tertekan pada anak.

Sabtu, 25 Desember 2010

Tanggung jawab pemerintah daerah terhadap penanggulangan kemiskinan setelah otonomi daerah


Untuk mengatasi kemiskinan perlu dilakukan langkah-langkah yang sistematis dan dalam suatu proses perencanaan yang matang dan terkoordinir, tepat sasaran dan tanpa adanya rasa egoisme sektoral. Apalagi dalam paradigm baru dimana Pemda dan Lembaga Swadaya Masyarakat akan makin berperan aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan, maupun sosialisasi program yang diharapkan akan menimbulkan sinergi yang kuat di antara semua pelaku pengentasan kemiskinan.
Mengatasi kemiskinan masyarakat adalah inti pemberdayaan masyarakat melalui perubahan, dan melaksanakan suatu societal-change untuk mencapai suatu kemajuan yang diinginkan. Tekad meningkatkan taraf hidup masyarakat misalnya, menuntut kemampuan perencanaan baru yang penuh dengan trial and error yang jika perencanaan itu dilaksanakan akan membawa konsekuensi merubah kultur dan pola kerja yang selama ini telah di kenal oleh masyarakat dan hal ini harus kita sadari bukan tanpa resistensi.
Dukungan birokrasi sangat penting dalam upaya mengatasi kemiskinan. Menurut pandangan Weber, birokrasi adala model organisasi yang paling ideal untuk pemerintah dalam menjalankan tugasnya. Di banyak Negara berkembang birokrasi pemerintahan mungkin adalh satu-satunya organisasi yang berpola modern, dan menjadi satu-satunya harapan untuk memelopori dan menggerakan proses medernisasi dan pembangunan. Namun, dengan perkembangan dunia yang makin didorong oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat, birokrasi yang didasarkan pada tatanan hieraki dan prosedur kerja yang cenderung mapan kurang dapat memenuhi kebutuhan dan tuntutan perkembangan yang cepat. Birokrasi tidak efisien dan tidak dapat diharapkan menghasilkan public goods dan public service dengan harga dan kualitas yang bersaing, dibanding dengan jika dilakukan oleh masyarakat. Menyadari hal itu maka tampaknya upaya yang dilakukan harus simultan, di satu sisi kita harus memfasilitasi upaya mengatasi kemiskinan yang sangat serius di lain pihak kita harus memperbaiki citra birokrasi dalam menangani percepatan pengentasan kemiskinan.
Dengan diundangkannya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintahan Pusat dengan Pemerintahan Daerah, maka dimulailah era baru Pemerintahan Daerah dengan otonomi luas, dimana  kepada Pemerintah Daerah dipercayakan peran yang sangat besar dengan dukungan sumber pendapatan Daerah. Upaya mengatasi kemiskinan menuntut jajaran Pemda dapat menempatkan diri secara tepat dalam era otonomi luas ini dengan mengambil peran yang lebih besar dalam upaya mempercepat penanganan pengentasan kemiskinan.
Dalam konteks persoalan kemiskinan di Indonesia, banyak hal yang perlu didefinisikan. Bahkan, akibat krisis moneter dan ekonomi yang kini terjadi maka besaran masalah yang dihadapi kembali membesar. Hal tersebut antara lain karena: pertama, masih banyak penduduk Indonesia yang berada di batas garis kemiskinan sehingga rentan terhadap perubahan. Kedua: jumlah pengangguran tenaga kerja semakin meningkat. Selain itu sangat heterogennya geografis, demografis, dan aspek-aspek lainnya sehingga menyadarkan kita bahwa mengatasi kemiskinan dalam kondisi yang serba beragam tersebut perlu didekati secar spesifik sehingga intervensi yang dilakukan pemerintah akan lebih kena sasaran. Inilah dasar utama diperlukannya model-model yang berorientasi pada perwilayahan yang merupakan kantong-kantong kemiskinan.
Program-program penanggulangan kemiskinan, harus dilakukan secara terpadu, bukan saja pada proses perencanaan tetapi pada sasaran yang yang di sesuaikan pada karakteristik dari masing-masing wilayah tersebut. Oleh sebab itu diharapkan dengan adanya model keterpaduan program mengatasi kemiskinan yang lebih spesifik, nilai tambah dari suatu program akan semakin besar.
Dengan melihat arah baru pendekatan pembangunan yang berorientasi pada masyarakat, maka Pemerintah Daerah harus dapat menjalankan perannya sesuai kondisi perubahan tersebut dengan menyelenggarakan pemerintahan yang baik dengan berlandaskan pada asas-asas keterbukaan, demokrasi, dan partisipasi. Di samping itu paradigm peran pemerintah juga harus berubah antara lain dari:
a)      Pelaksana menjadi fasilitator;
b)      Memberikan instruksi menjadi melayani masyarakat;
c)      Mengatur menjadi memberdayakan masyarakat
d)     Bekerja untuk memenuhi aturan menjadi bekerja untuk mewujudkan misi.
Hal tersebut harus disadari dan harus selalu ditanamkan dalam setiap gerak upaya pelaksanaan pemberdayaan masyarakat. Mengingat dalam UU No. 22 Tahun 1999 telah diamanatkan bahwa tugas dan kewenangan sebagian urusan pemerintahan diserahkan kepada Daerah melalui desentralisasi kewenangan dan dengan memperkuat Otonomi Daerah. Untuk mencapai maksud tersebut, diperlukan partisipasi serta peran aktif pemerintah dalam memberikan iklim kondusif bagi upaya pemberdayaan masyarakat tersebut. Peran yang diharapkan dari Pemerintah Daerah dalam melaksanakan kegiatan dimaksud antara lain sebagai berikut:
a)      Memberikan legitimasi kepada para pelaku, antara lain kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Lembaga-lembaga Formal di kelurahan/desa, kelompok-kelompok social lainnya, dan warga masyarakat penerima bantuan.
b)      Menjadi “wasit” apabila timbul persoalan-persoalan yang memerlukan fungsi penengah.
c)      Mendorong dan memapukan para pelaku agar peran dan tugas-tugasnya dapat dilaksanakan dengan baik.
d)     Turut memberikan masukan dan mengendalikan, khususnya pembangunan fisik, agar adanya integrasi antara program-program pembanguna yang ada di daerah.
e)      Memberikan sosialisasi atas konsep Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan kepada semua aparat, sehingga dapat memberikan kontribusi positif dalam upaya mencapai keberhasilan pelaksanaan kegiatan tersebut.
 

Harus diakui bahwa perubahan paradigm peran pemerintah dalam proses penanggulangan kemiskinan masih jauh dari harapan. Namun dengan komitmen untuk mewujudkan masyarakat yang lebih berdaya dalam melaksanakan proses pembangunan, diperlukan langkah-langkah konkret sebagai wujud perubahan peran pemerintah harus segera dilakukan. Masyarakat, terutama masyarakat miskin akan mampu menolong dirinya sendiri apabila diberi kepercayaan dan tanggung jawab untuk menolong dirinya sendiri.
Pemberdayaan bukan berarti menjadikan masyarakat selalu bergantung pada pihak lain, akan tetapi lebih di tujukan untuk memandirikan masyarakat dalam mengurus kepetingannya melalui proses pembangunan partisipatif dengan pendekatan dengan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Pemerintah dalam pengertian perorangan (aparat) harus dapat memahami bahwa perannya sangat penting dan signifikan dalam upaya mewujudkan kemandirian masyarakat. Dengan pemikiran tersebut maka diharapkan alur pelaksanaan peran pemerintah berada pada jalur yang benar.



Kaloh. Mencari Bentuk Otonomi Daerah. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

Pelayanan Administrasi Negara di Indonesia


Penyelenggaraan system pemerintahan di Indonesia melalui otonomi daerah secara utuh menjadi hal yang sangat diharapkan oleh masyarakat. Sejak runtuhnya rezim orde baru pada tahun 1997, tuntutan untuk diberlakukannya otonomi daerah secara lebih luas kembali menjadi marak dan berkembang hampir di setiap lapisan masyarakat, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Otonomi daerah merupakan penyerahan wewenang kepada daerah dalam segala urusan pemerintah kabupaten/ kota. Dengan adanya penyerahan wewenang ini, pemerintah daerah dituntut untuk memiliki kreativitas, inovasi dan kemandirian sehingga dapat mengurangi tingkat ketergantungan kepada pemerintah daerah. Dan yang lebih penting lagi adalah dengan adanya otonomi daerah, kualitas pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakatnya akan meningkat, baik pelayanan yang bersifat langsung maupun pelayanan yang bersifat tidak langsung diberikan kepada masyarakat, seperti pembuatan dan pembangunan fasilitas-fasilitas umum dan fasilitas sosial lainnya.
Upaya pemerintah untuk mengubah system pemerintahan yang berorientasi kepada pelayanan masyarakat tidaklah bisa dilakukan dengan cepat dan mudah. Perlu adanya adaptasi dan pengawasan dari setiap unit/ instansi pemerintah untuk bisa memberikan pelayanan yang optimal. Banyak pemberitaan-pemberitaan terkait dengan pelayanan pemerintah yang masih belum memuaskan bagi masyarakat.
Groonroos mendefinisikan pelayanan sebagai berikut: “Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara konsumen dengan pegawai atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan konsumen/ masyarakat.”
Suatu pelayanan akan terbentuk karena adanya proses pemberian layanan tertentu dari pihak yang dilayani. Barata (2004), mengungkapkan bahwa ada tiga hal penting yang patut dipahami dalam proses layanan, yaitu:
a.       Penyedia layanan
Penyedia layanan adalah pihak yang dapat memberikan layanan tertentu kepada konsumen, baik berupa layanan dalam bentuk penyediaan dan penyerahan barang (goods) atau jasa-jasa (service),
b.      Penerima layanan
Penerima layanan adalah mereka yang disebut sebagai konsumen atau masyarakat yang menerima layanan dari para penyedia layanan,
c.       Jenis layanan
Jenis layanan yang dapat diberikan oleh penyedia layanan kepada pihak yang membutuhkan layanan terdiri dari berbagai macam, antara lain berupa layanan yang berkaitan dengan penyediaan dan distribusi barang-barang saja, atau layanan ganda yang berkaitan dengan kedua-duanya.
Pelayanan umum menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No..25 Tahun 2009 Tentang Pelyanan Publik adalah : “Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundangundangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.”
Dari uraian diatas mengenai pelayanan public dapat ditarik kesimpulan, bahwa pelayanan publik adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat memberikan suatu pelayanan yang mana didalam pelayanan dimulai dari penyediaan layanan, penerima layanan, dan jenis layanan yang diberikan oleh pemerintah guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan Negara.
Berdasarkan sebuah penelitian oleh Lembaga Penelitian Politik di Hongkong menyebutkan, Indonesia adalah negara dengan peringkat sembilan dari 10 negara Asia dalam hal pelayanan publik. Tentunya, ini bukanlah peringkat yang baik di mata dunia. (http://www.jirolu.com/articles/indonesia-adalah-yang-terburuk-dalam-hal-pelayanan-publik-1238.html)
Tak dapat dipungkiri, pelayanan publik yang selama ini terjadi di Indonesia baik di tingkat pusat maupun daerah walaupun tidak semua daerah memiliki pelayanan publik yang buruk, contohnya Kabupaten Jembrana di Propinsi Bali masih penuh dengan berbagai masalah seperti mengenai ketepatan waktu, biaya, cara pelayanan, pungutan liar, dan lain sebagainya yang jauh dari bentuk oerganisasi pelayanan public yang ideal.
Masih banyak pelayanan yang diberikan instansi pemerintah belum mampu memenuhi kebutuhan dan harapan dari masyarakat. Perlu adanya control dan pengawasan terhadap kinerja dari unit pelayanan pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Baik unit pelayanan yang ada di pusat maupun derah.
Moenir. 1998. Manajemen Pelayanan Umum. Cetakan ke II. Bumi Aksara. Jakarta

Sabtu, 15 Mei 2010

MELIHAT, BERGERAK DAN MENYELESAIKAN PERUBAHAN


Menciptakan Kontras

Sesuatu yang tidak kontras dibedakan keberadannya. Itu sebabnya orang-orang yang terlalu intens berada di dalam sebuah komunitas tak mampu melihat perubahan karena semua yang dilihatnya sudah tampak biasa. Tidak tampak kontrasnya lagi. Perubahan justru diciptakan oleh orang-orang yang sering berpergian dan bergaul dengan pihak-pihak di luar. Dengan sering melihat ke luar, seseorang akan dengan segera menyadari adanya gap antara apa yang telah dicapai oleh komunitasnya dengan apa yang telah dicapai komunitas lain.

Selain orang-orang yang sering berada di luar, kontras juga akan dilihat oleh orang-orang “pesisir” yang terbiasa berinteraksi dengan “dunia luar” di tempatnya. Istilah “pesisir” dalam peta bisnis diartikan sebagai daerah yang terbuka, yang memungkinkan eksekutif berinteraksi dengan eksekutif-eksekutif lain dari organisasinya. Seuasana “pesisir” apat diciptakan dalam manajemen perusahaan, misalnya menyelenggarakan pelatihan lintas divisi/profesi/perusahaan, pelatihan ke luar, mengaitkan karyawan dengan forum-forum bisnis, mengaktifkan karyawan dalam organisasi profesi, dan seterusnya. Singkatnya, ada banyak cara untuk membuat pagar batas yang terbuka. Dengan berinteraksi, seseorang akan memahami apa yang sedang terjadi di luar dirinya dan melihat kontras. Martin Luther King adalah tokoh yang menyadari gap antara kehidupan normal dengan bayang-bayang segregasi.

Tengoklah bagaimana seorang katak mati terbunuh di dalam sebuah tempurung yang airnya dipanaskan perlahan-lahan. Katak itu tidak sadar bahwa suhu air sedang ditingkatkan perlahan-lahan, dan ia mati di luar kesadarannya sebelum melompat atau merespons perubahan itu. Sebuah evolusi memang sering kali tidak dipahami sebagai sebuah perubahan. Bila tidak ada gejolak, tidak ada sesuatu yang kontras. Sebuah revolusi atau peristiwa besar biasanya cukup mengejutkan. Ia terjadi secara kontras, berbeda dengan biasanya. Justru karena sangat kontras dan menarik perhatian maka manusia akan sangat meresponsnya. Seekor katak yang dimasukan ke dalam tempurung yang berisi air panas akan segera melompat. Ia segera sadar secara refleks bahwa suhunya sangat tinggi. Ia tahu persis sesuatu yang lain telah terjadi, berbeda dengan air yang perubahannya sama sekali tidak dirasakan.



Beberapa Cara Untuk Menunjukan Kontras

1.Fokus. Fokuskan dua perbedaan secara mencolok, jangan lebih. Tanyakan pada orang-orang Anda, mengapa keduanya berbeda? Dan mintalah analisis mereka mana yang lebih baik?

2.Hindari penyajian yang lompleks. Penyajian yang kompleks hanya membuat orang bingung dan sulit menangkap sensasi.

3.Piknik. Piknik ke luar negeri, mengunjungi pasar/prodesen di negero orang atau di perusahaan milik orang lai, hal itu dapat menimbulkan gambaran yang kontras antara “kita” dengan “mereka”

4.Pengalaman. Bawa orang-orang Anda untuk mengalami sendiri sesuatu yang berada di tempat lain. Atau bawa orang-orang baru di dunia lain untuk melakukan sesuatu di tempat Anda.

5.Pareto. Dalam bisnis berlaku hukum pareto 80/20. Fokuskanlah pada perubahan 20% yang memberikan kontribuso terbesar (80%). Carilah penyebab kerugian terbesar, atau memberi kesempatan terbesar yang biayanya tidak terlalu besar. Dengan menunjukan satu atau dua penyebab, Anda bisa memperbaiki sesuatu secara bertahap.

Sesuatu yang kontras belum tentu dilihat dengan kontras oleh mata pengikut/ karyawan Anda. Melihat suatu kontras membutuhkan seni tersendiri. Namun, kalau orang-orang yang menjadi tanggung jawab Anda sudah terbiasa berinteraksi dengan dunia lain dengan berbagai hasil analisis dan terekspos dengan perubahan-perubahan itu maka manunjukan suatu kontras bukanlah dengan sangat cepat menangkap kontras itu dan memfokuskan pada satu atau dua variabel yang harus ditangani dengan cepat.


Mengajak Orang Bergerak


Setelah orang-orang itu diajak melihat, tantangan selanjutnya adalah mendorong agar mereka mau bergerak. Orang-orang yang melihat belum tentu mau melakukan sesuatu. Ada beberapa alasan mengapa orang enggan bergerak. Pertama setelah orang-orang itu diajak melihat, tantangan selanjutnya adalah mendorong agar mereka mau bergerak. Orang-orang yang melihat belum tentu mau melakukan sesuatu. Ada beberapa alasan mengapa orang enggan bergerak.

Dalam pikiran orang-orang yang terlibat dalam suatu perubahan, resiko-resiko itu di kalkulasikan dan dibandingkan dengan kemungkinan-kemungkinan keuntungan atau kenikmatan yang diduga akan diterima. Tugas seorang manajer disini adalah mengurangi persepsi para bawahan terhadap perkiraan-perkiraan resiko yang akan muncul, dan menunjukan sisi positif yang akan diperoleh kalau perubahan berhasil diatasi.

Faktor kedua adalah tidak adanya kejelasan. Sesuatu menjadi tidak jelas kalau tidak fokus, informasinya tidak lengkap, prosesnya tidak jelas, dan sebagainya. Ketika perubahan mengajak seseorang bergerak keatas, selalu saja ada daya grafitasi yang menariknya kebawah.

Faktor ketiga adalah tidak ada dukungan. Mereka harus memotret masalah, mengajak orang-orang lain melihat dan memotivasi mereka agar terus bergerak. Dukungan yang terus datang dari arus bawah akan memberikan energi yang lebih besar.

Faktor keempat adalah Blue Print Strategy. Perubahan memerlukan tiga hal sekaligus: (1) tujuan atau sasaran yang jelas; (2) peralatan atau dukungan sumberdaya yang memadai; dan (3) imbalan yang memadai untuk insentif.


Konfrontasi

Untuk membukakan mata seseorang terhadap perubahan maka menunjukkan kontras saja tidak cukup tetapi perlu dikonfrontasikan atau dihadapkan secara berulang-ulang terhadap suatu masalah. Konfrontasi atau komunikasi yang intensif akan menimbulkan efek bersahabat karena ada rasa kedekatan.


Gabungan Kontras dan Konfrontasi

Cara tebaik untuk memperlihatkan perubahan adalah dengan menggabungkan kontras dan konfrontasi. Sesuatu yang tidak kontras (kontras rendah) yang perubahannya tidak kasat mata, yang terjadi sekelebat (konfrontasi rendah sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting atau disebut tong sampah. Sesuatu yang sangat kontras (kontras tinggi) dan hanya datang sekelebat (konfrontasi rendah) hanya menimbulkan keterkejutan sesaat atau disebut parade. Sesuatu yang tampak berulang-ulang (konfrontasi tinggi) namun tidak kontras (kontras rendah) akan tampak seprti barang tua atau kehadirannya biasa saja. Sesuatu yang bisa membukakan mata terhadap perubahan justru datang dari situasi yang sangat kontras (fokus) dan terekspos berulang-ulang secara intensif.

Contoh kasus di Universitas Indonesia pada program magister dan doctor dalam ilmu manajemen pernah dilakukan perubahan cara mahasiswa belajar dan cara pengajar menyampaikan materi pengajaran. Adanya GAP antara mahasiswa S1 yang cenderung tidak membaca sebelum perkuliahan dan mahasiswa S2 dan S3 yang aktif membaca maka dilakukan perubahan untuk membudayakan membaca. Berdasarkan masukan tersebut program melakukan beberapa langkah sebagi berikut :

1.Menjadikan semester berikutnya sebagai tahun membaca. Spanduk, brosur dan leaflet disebarkan di beberapa titik di sekitar gedung kuliah dan ruang kelas.

2.Memanggil para dosen dan melakuakan diskusi mendalam.

3.Mungubah seluruh cara pengajaran, satu jam pertama diterapkan proses interaksi dan membaca kemudian satu jam berikutnya dilakukan diskusi dan tanya jawab.

4.Selama kuliah berlangsung, mahasiswa dipantau dan diberlakukan kontes dimana kelas paling aktif akan diberi reward dan mahasiswa yang paling aktif akan diberi beasiswa pembebasan uang kuliah.


Penggabungan antara kontras dan konfrontasi dapat merubah kebiasaan mahasiswa. Setelah berjalan satu semester, para dosen menyampaikan kepuasannya dalam mengajar karena suasana kelas telah berubah 180 derajat dan kepuasan mahasiswa ikut kuliah meningkat.





konfrontasi

Kontras